Kemarin, Selasa (20/09) terasa mengagetkan, saya resmi berhenti (dan diberhentikan) dari bagian tim tulis majalah pondok.
Sebenarnya saya masih cinta sih pada instansi ini, bisa dikatakan masih bisa loyal, karena saya berhutang budi pada instansi ini, karena mengajarkan menulis, public speaking dan banyak hal yang lain, juga yang paling tidak saya lupakan, instansi ini punya andil dalam mengangkat saya lagi menjadi staf pengajar pondok pesantren sidogiri setelah resmi boyong (yang seharusnya kalau boyong tidak bisa jadi guru). I Can Only Say Jazakumullah Ahsanal Jazak, khususnya pada pak Pemred.
Namun, - seperti kata pepatah: "Ilmu bela diri memang penting, tapi Ilmu sadar diri jauh lebih penting" -, saya menyadari loyalitas saja tidak cukup, cinta saja tidak cukup, butuh namanya kualitas yang mumpuni. Apesnya.... kualitas menulis saya semakin hari semakin menurun, jadi apalah dikata, mau tidak mau saya harus menerima kenyataan ini, dan mengambil hikmah dari semua yang terjadi. Paling tidak dengan ini saya jadi sadar kalau saya harus belajar lagi, menajamkan lagi gaya menulis saya, agar tidak terjebak di zona nyaman lagi, seperti yang saat ini saya lalui.
Terima kasih semuanya, terimakasih atas kebersamaannya, terima kasih atas ilmunya dan terima kasih atas kepercayaannya.
Jazakumullah Ahsanal Jazak.
***
Note:
Ini mungkin hal yang jarang saya lakukan yaitu menulis blog dan curhat hal-hal yang sedih, tentu hal itu bukan karena saya gak punya pernah sedih ataupun gak punya blog pribadi, tentu bukan itu..
Memang sebelumnya sengaja selalu posting yang bahagia-bahagia saja, agar setan dan semua musuh kita tak ada kesempatan untuk bahagia karena melihat kesedihan kita, Ibnul Qayyim berkata:
ولا شيء احب الى الشيطان من حزن المؤمن لذلك افرحوا واستبشروا وتفاءلوا وأحسنوا الظن بالله وثقوا بما عند الله وتوكلوا عليه وستجدون السعادة
Artinya: "Tak ada hal yang lebih membahagiakan setan melebihi kesedihan seorang mukmin, karena itulah, bergembiralah, tetap optimis, bebaik sangka pada Allah, percayalah pada ketetapan Allah dan bertawakkallah, niscaya kalian akan bahagia"
Namun saat ini, sedikit pengecualian. Saya ingin menulis semua hal yang tertanam di pikiran, agar pikiran bisa jernih lagi sehingga aktivitas sehari-hari bisa berjalan lancar tanpa terganggu rasa stres, seperti kata psikolog "Menulis dapat menghilangkan rasa stres".
So, saya berkomitmen untuk selanjutnya untuk menjadi penulis lepas, untuk melatih ketajaman tulisan saya dan merefrefresh pikirkan yang sedang kalut. Wallahu A'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar